My Clock

Showing posts with label Inspiring stories. Show all posts
Showing posts with label Inspiring stories. Show all posts

Friday, April 6, 2012

Seorang Ibu meninggal setelah 38 th merawat anaknya yg koma

A really nice story .......
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali ...
Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma.
Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

Kaye O'Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida. Kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

"Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat," kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu (8/3/2008).

Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother's Unconditional Love and What It Can Teach Us.

Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membanya ke rumah sakit.

Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: "Janji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji ya?" Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. "Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja," kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O'Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang

Tahun 1976, diliput The Miami News

Tahun 1979, tetap setia menemani putrinya

Tak terhingga sepanjang masa..
 Benar-benar suatu contoh dan panutan. Tetap menemani anaknya sampai akhir hayatnya
Read More.. - Seorang Ibu meninggal setelah 38 th merawat anaknya yg koma

Friday, January 20, 2012

Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87 Tahun

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa, 
"Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? " Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, 
"Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya ! pelukan yang sangat erat. 

"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, 
"Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. 
"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. 
Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, 
"Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya." 

"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan." 

"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

* * * * *
Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat & kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.
Read More.. - Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87 Tahun

Thursday, December 22, 2011

Semangkuk Mie - Inspiring story

         Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana

         segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu

         jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

         Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia

         mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi,

         tetapi ia tdk mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup

         lama di depan kedainya, lalu berkata 'Nona, apakah engkau ingin memesan

         semangkuk bakmi?'

         ' Ya, tetapi, aku tdk membawa uang' jawab Ana dengan malu-malu.

         'Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu' jawab si pemilik kedai.

         'Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu'. Tidak lama kemudian,

         pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan

         beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

         'Ada apa nona?' Tanya si pemilik kedai. 'tidak apa-apa' aku hanya terharu

         jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.' Bahkan, seorang yang baru

         kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri,

         setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan

         kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah' 'Kau, seorang yang baru

         kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku

         sendiri' katanya kepada pemilik kedai. Pemilik kedai itu setelah

         mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata 'Nona mengapa

         kau berpikir seperti itu?

         Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu

         terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil

         sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau

         malah bertengkar dengannya'. Ana terhenyak mendengar hal tsb.

         'Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Utk semangkuk bakmi dari orang yg

         baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak

         untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan

         kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku

         bertengkar dengannya. Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia

         menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

         Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kpd

         ibunya.

         Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah

         letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar

         dari mulutnya adalah 'Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah

         menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan

         akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang'.

         Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan

         ibunya.

         Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain

         di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.

         Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang

         tua kita,

         kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup

         kita.

         RENUNGAN:

         BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.

         SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES

         ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH

         HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.

         PIKIRKANLAH HAL ITU?? APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA

         SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

         HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG

         INDAH DIDALAM TUHAN.

         Jika Anda mendapat Berkat dari tulisan diatas, maka bagikan juga kepada

         handai tolan Anda...

         Sharing is Caring.......

Read More.. - Semangkuk Mie - Inspiring story

Wednesday, December 21, 2011

Take My Son

This is great.  It will make your day!

The ending will surprise you.
  
Take my Son

A wealthy man and his son loved to collect rare works of art. They had everything in their collection, from Picasso to Raphael. They would often sit together and admire the great works of art.

When the Vietnam conflict broke out, the son went to war.  He was very courageous and died in battle while rescuing another soldier. The father was notified and grieved deeply for his only son.

About a month later, just before Christmas, there was a knock at the door.  A young man stood at the door with a large package in his hands.

He said, "Sir, you don't know me, but I am the soldier for whom your son gave his life.  He saved many lives that day, and he was carrying me to safety when a bullet struck him in the heart and he died instantly. He often talked about you, and your love for art."  The young man held out this package. "I know this isn't much. I'm not really a great artist, but I think your son would have wanted you to have this."

The father opened the package. It was a portrait of his son, painted by the young man.  He stared in awe at the way the soldier had captured the personality of his son in the painting. The father was so drawn to the eyes that his own eyes welled up with tears. He thanked the young man and offered to pay him for the picture. "Oh, no sir, I could never repay what your son did for me.  It's a gift."

The father hung the portrait over his mantle.  Every time visitors came to his home he took them to see the portrait of his son before he showed them any of the other great works he had collected.

The man died a few months later. There was to be a great auction of his paintings.  Many influential people gathered, excited over seeing the great paintings and having an opportunity to purchase one for their collection .


On the platform sat the painting of the son. The auctioneer pounded his gavel.  "We will start the bidding with this picture of the son. Who will bid for this picture?"

There was silence.
  
Then a voice in the back of the room shouted, "We want to see the famous paintings. Skip this one."
  
But the auctioneer persisted. "Will somebody bid for this painting. Who will start the bidding? $100, $200?"

Another voice angrily.
"We didn't come to see this painting. We came to see the Van Gogh's, the Rembrandts. Get on with the real bids!"
  
But still the auctioneer continued. "The son! The son! Who'll take the son?"

Finally, a voice came from the very back of the room. It was the longtime gardener of the man and his son. "I'll give $10 for the painting." Being a poor man, it was all he could afford.

"We have $10, who will bid $20?"
  
"Give it to him for $10. Let's see the masters."

"$10 is the bid, won't someone bid $20?"

The crowd was becoming angry. They didn't want the picture of the son.

They wanted the more worthy investments for their collections.

The auctioneer pounded the gavel. "Going once, twice, SOLD for $10!"

A man sitting on the second row shouted, "Now let's get on with the collection!"
  
The auctioneer laid down his gavel. "I'm sorry, the auction is over."

"What about the paintings?"

I am sorry.  When I was called to conduct this auction, I was told of a secret stipulation in the will.  I was not allowed to reveal that stipulation until this time. Only the painting of the son would be auctioned  Whoever bought that painting would inherit the entire estate, including the paintings.
  
The man who took the son gets everything!"

God gave His son 2,000 years ago to die on the cross.  Much like the auctioneer, His message today is:

"The son, the son, who'll take the son?"
  
Because, you see, whoever takes the Son gets everything.
  
FOR GOD SO LOVED THE WORLD HE GAVE HIS ONLY BEGOTTEN SON, WHO SO EVER BELIEVETH , SHALL HAVE ETERNAL LIFE...THAT'S LOVE.
 

God Bless
Read More.. - Take My Son